Surat Isi Hati Seorang Ayah yang Akan Membuatmu Meneteskan Air Mata

GROSTASIMPORT BATAM – Any Man can be a Father. It takes someone special to be a Dad.

Kalo ditanya apa arti sosok seorang Ayah untuk kalian, jawaban apa yang akan kalian beri? Pahlawan? Super hero kah? Atau.. justru seseorang yang keras? Tentu kalian akan memberi jawaban yang berbeda – beda. Tergantung bagaimana sosok Ayah yang kalian punya, kawan.

Ada orang yang memiliki sosok Ayah yang lembut, senang bermain dengan anaknya, mau apa aja dibolehin, sabar. Tapi ada juga yang memiliki sosok Ayah yang keras, tegas, sering memarahi anaknya, bahkan tak jarang ada yang sering memberi pukulan pada anaknya.

Tapi, ada yang perlu diingat. Bagaimanapun Ayah kalian, dia adalah seorang yang sungguh menyayangi kalian dari lubuk hatinya yang paling dalam. Walaupun terkadang bisa dikira dia tidak menyayangi kita karena sikapnya yang keras itu. Namun percayakah kalian kalau sebenarnya Ayah menyimpan rasa sayang yang begitu besar pada kalian di dalam dirinya ?

Di postingan kali ini akan membahas tentang pesan dari seorang Ayah pada anak – anaknya. Pesan berikut mungkin belum kalian rasakan saat ini. Namun percayalah, pesan ini akan seperti pesan dari mereka diwaktu mendatang.

Silahkan baca dan renungkan ungkapan dari sesosok Ayah berikut ini 

Dad.. Remembering you is easy, I do it everyday

But missing you is the heartache that never goes away.

Hai anakku. Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau baik – baik saja? Anakku.. ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku. Suatu ketika aku memecahkan piring di atas meja karena penglihatanku berkurang, aku berharap kamu tidak akan memarahiku.

Orang tua itu sensitif, nak. Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak. Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan, aku berharap kamu tidak memanggilku “TULI!” Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menulisnya..

Maaf, anakku. Aku semakin tua… Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun. Seperti bagaimana aku selalu membantu kamu. Saat kamu masih kecil untuk belajar berjalan. Aku mohon jangan bosan denganku. Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan. Seperti kaset rusak.

Aku harap kamu terus mendengarkan aku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku. Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang – ulang. Sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bauku.. tercium seperti orang yang sudah tua. Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi. Tubuhku lemah, orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin. Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu Apakah kamu ingat ketika masih kecil? Aku selalu mengejar – ngejar kamu, karena kamu tidak ingin mandi.

Aku berharap kamu bisa bersabar denganku ketika aku selalu rewel. Ini semua bagian dari menjadi tua. Kamu akan mengerti ketika kamu tua. Dan jika kamu memiliki waktu luang. Aku harap kita bisa berbicara meski untuk beberapa menit saja. Aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak berbicara.

Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan jika kamu tidak tertarik pada ceritaku, aku mohon berikan aku waktu bersamamu. Apakah kamu masih ingat ketika kamu masih kecil ? Aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu.

Ketika saatnya tiba… dan aku hanya bisa berbaring, sakit dan sakit. Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku. Maaf, kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan. Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku. Selama beberapa saat terakhir hidupku.

Aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, kuharap kamu memegang tanganku dan memberikan ku kekuatan untuk menghadapi kematian.. Dan jangan khawatir.. ketika aku bertemu dengan sang pencipta, aku akan berbisik padaNya untuk selalu memberimu berkah karena kamu mencintai ibu dan ayahmu, nak.
Terimakasih atas segala perhatianmu nak …

Maafkan kalau dulu kami sering memukulmu, keras padamu, tapi kami sangat menyayangimu.

Dengan kasih sayang,

Ayahmu.

.

.

You never know when you might be seeing someone for the last time.

Including our parents . . .

Terkadang kita semua terlalu sibuk dan melupakan kalau mereka juga semakin tua. Sediakanlah waktu kalian untuk dinikmati bersama mereka kawan. Selama mereka masih ada disisi kalian, masih bisa memeluknya, berbicara dengannya, melihat senyuman lembutnya. Lakukanlah, sebelum waktu yang akan menghadirkan perasaan menyesal 

 

Facebook Comments